Kota Demak yang terkenal dengan Masjid Agungnya dan buah jambu yang manis itu mempunyai beberapa tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Taman mangrove Morosari.
Mungkin belum banyak orang tahu tentang
keberadaan Taman Mangrove yang begitu bagus di kota Wali ini. Lokasi
Taman Mangrove Morosari tidak terlalu jauh dari jalan raya
Demak-Semarang tepatnya di desa bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten
Demak. Ada yang sudah pernah kesana? pastinya ada ya
Minggu lalu saya berkesempatan
mengunjungi Taman Mangrove tersebut bersama Aji dan tiga temannya (Mas
Hadi, Mas Ayip & Pacarnya). Tujuan berwisata ke Demak merupakan
salah satu rekomendasi dari Aji. Aji sendiri merekomendasikan untuk
mengunjungi Taman Mangrove Morosari sekitar 2 bulan yang lalu. Agar
tidak kecewa dengan suasana dan kondisi tempat wisata tersebut,
saya-pun mencari informasi tentang keberadaan dan suasana Taman
Mangrove itu sebelum akhirnya memutuskan untuk cabut ke lokasi. Setelah
mendapatkan informasi tentang Taman Mangrove tersebut, saya sangat
tertarik dan ingin segera menuju lokasi.
Awalnya kami hanya berdua berangkat
menggunakan motor dari kota Kudus sekitar pukul 11.00 WIB. Kala itu suhu
udara mencapai 39 derajat celcius. Bayangin aja tuh betapa panasnya
suhu udara pada waktu itu (urasan lo kak hihihihihi). Beberapa
kali kami mencoba menghubungi Umam (Salah satu penghuni Kota Demak) yang
tahu keberadaan Taman mangrove Morosari melalui BBM. Beruntung Umam
segera membalas dan menunjukkan arah menuju lokasi Taman Mangrove
Morosari tersebut. Sementara itu ketiga teman Aji (Mas Hadi, Mas Ayip
& Pacarnya) sudah menunggu kami di tempat kerjanya yang berlokasi di
Demak Kota. Kami berdua menuju ke sana dan akhirnya kami lanjutkan
perjalanan ke Taman Mangrove Morosari.
Untuk menuju lokasi Taman Mangrove kami
harus melewati jalan yang rusak dan berbatu. Karena penjelasan Umam
tentang jalur menuju lokasi kurang jelas, kami mencoba bertanya kepada
warga. Saat kami menanyakan tentang Taman Mangrove ini mereka malah
menjawab kalau Taman Mangrove itu jalan arah menuju makam seorang
Ulama’. Kami kembali menegaskan kepada orang itu bahwa tujuan kami
adalah ke Taman Mangrove Morosari bukan ke makam. Warga tersebut kembali
menegaskan bahwa itu adalah jalan menuju makam seorang Ulama’. Tanpa
banyak tanya lagi, kami langsung cabut menuju ke sana sesuai arah yang
di tunjukkan orang tersebut.
Setelah melewati jalan rusak yang cukup
panjang, kami harus melewati jalan kecil di tengah laut yang menuju ke
Taman Mangrove tersebut. Agak sedikit miris si ketika melewati jalan di
tengah laut ini. Selain sempit, ada beberapa track miring sehingga
membuat saya semakin ngeri.

Sampai di lokasi kami lihat ada beberapa
papan larangan yang harus kita patuhi di tempat ini. Eits jangan
berani-berani melanggar aturan di sini ya atau kalian akan di marahi
oleh bapak-bapak penjaga yang sering patroli di lokasi ini. Untuk masuk
ke Taman mangrove Morosari kita tidak di bebankan untuk membayar
retribusi. Cukup membayar uang parkir saja Rp. 2000,- per motor (Murah kaaaan?).
Berhubung kami membawa kamera, kami harus membayar retribusi Rp.
25.000,- karena memang sudah peraturannya seperti itu. Menurut seorang
penjaga, jika mau mengambil gambar menggunakan kamera kita wajib
membayar retribusi. Tetapi jika mengambil gambar dengan menggunakan
kamera ponsel maka tidak di tarik retribusi alias gratis.



Suasana di Taman mangrove ini begitu Adem
dan sejuk banget. Tak hanya itu Taman Mangrove ini juga di penuhi
dengan satwa liar seperti burung bangau putih dan hitam. Ada juga
beberapa perahu kecil yang bergoyang-goyang terkena ombak laut.

“Dulunya di Taman Mangrove ini ada kampung kecil (tutur kata seorang warga atau penjaga Taman Mangrove). Sekitar tahun 2009 kampung ini terendam air laut akibat abrasi. Itu semua terbukti dengan adanya sebuah bangunan masjid yang masih berdiri kokoh walaupun sudah terendam air dan lumpur. Di sini hanya ada beberapa warga yang masih menghuni kampung ini termasuk para penjaga Taman Mangrove.”
Awalnya kami tidak tahu bahwa di ujung
Taman mangrove ini terdapat makam Ulama’ yakni makam Syeh Abdullah
Mudzakir. Makam ini memang berada di tengah laut seperti yang dikatakan
warga saat kami menanyakan arah jalan menuju lokasi Taman Mangrove ini.
Untuk menuju makam Syekh Abdullah Mudzakir, kita harus melewati
jembatan kayu di tengah laut. Kami tidak meuju ke makam tersebut karena
tujuan awal kami hanya untuk menikmati Taman Mangrove Morosari ini.
sumber: https://yasiryafiat.wordpress.com/2014/10/16/taman-mangrove-morosari-demak-jawa-tengah/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar